IS Quality Assurance & Control: Implementasi ERP

Oleh: Henki Lubis, Cakra Ramadhana, David Firmansyah, Syaiful Bachri dan Suliyanti
Kelompok 2 – ISQAC – Group Assignment 1
Dampak Implementasi ERP pada organisasi:
  • Dari sisi dampak scope, implementasi ERP akan berdampak kepada seluruh organisasi di mana traditional project biasanya hanya akan ber dampak pada sebagian area saja.
  • Implementasi ERP juga biasanya berdampak terjadinya reengineering bisnis proses. Ini disebabkan umumnya bisnis proses yang akan menyesuaikan terhadap proses dari software ERP yang dipilih, bukan merubah software ERP untuk menyesuaikan dengan bisnis proses perusahaan.
  • Implementasi ERP juga harus membuat organisasi membutuhkan personel yang harus belajar Bahasa programming baru.
  • Implementasi ERP juga merubah computing paradigma perusahaan dari mainframe-based ke network-centric.
  • Dengan harga aplikasi yang cukup mahal, maka ada risiko kebangkrutan pada saat kegagalan implementasi terjadi.
  • Namun, di luar dampak negative diatas, dampak yang sangat positive bisa juga terjadi pada perusahaan, yaitu peningkatan performansi perusahaan saat implementasi dapat selesai sesuai dengan target dan proses peralihan telah selesai dengan sempurna. Dengan adanya system ini, maka cukup 1 system yang akan digunakan untuk sebagian besar bisnis proses yang dimiliki oleh perusahaan, namun yang selalu didahulukan adalah bisnis proses yang terkait dengan pembayaran atau penerimaan, hal ini akan membuat perusahaan dapat menghasilkan laporan keuangan perusahaan yang valid dalam waktu yang lebih cepat.
Sebelum melakukan implementasi ERP perlu dilakukan usaha untuk meminimalisir resiko gagalnya implementasi (Barki, et al. 1993; Jiang and Klein, 1999). Untuk meminimalisasikan resiko, biasanya audit firm akan melakukan indentifikasi terhadap sifat resiko, control dan deteksi resiko yang diikuti dengan membangun level acceptance dan menentukan level dari seluruh hasil audit resiko yang merupakan fungsi bagi resiko yang lain (Arens and Loebbecke, 1997). Hal yang sama yang harus dilakukan sebelum implementasi ERP yaitu resiko harus di identifikasi dan melakukan control yang diperlukan untuk meminimalisir resiko.
Tidak selarasnya strategi organisasi, struktur, dan proses dan pemilihan software ERP juga dapat membuat gagalnya implementasi ERP. Oleh karena itu process reengineering literature (Hammer, 1990; Hammer and Champy, 1993) dan ERP literature menyebutkan ERP system tidak akan dapat mengimprove performansi perusahaan, kecuali perusahaan tersebut melakukan restruktur pada proses operasionalnya (Bingi et al., 1999; Davenport, 1998; Davenport, 2000).
Implementasi ERP juga perlu diawali oleh inisiatif bisnis. Ini membuat organisasi mendapatkan strategi yang jelas.
Setelah implementasi ERP, perlu dipersiapkan orang orang (employee) yang mempunyai skill yang dibutuhkan untuk memanage dan melakukan maintenance terhadap aplikasi ERP.
Resiko resiko yang dihadapi perusahaan pada implementasi ERP
  • Tidak selarasnya organisasi strategi, struktur dan proses dan pemilihan software ERP. Seperti dijelaskan di nomor (1), perlunya proses strukturisasi dalam organisasi perlu dilakukan. Hilangnya control terhadap project merupakan salah satu issue besar. Kehilangan control project dapat di bagi menjadi 2 yaitu hilangnya control terhadap project team dan hilangnya control terhadap employee jika implementasi ERP selesai.
  • Kompleksitas project. Implementasi project ERP melibatkan pembelian hardware, software dan penggunaan biaya yang besar. Scope ERP system juga lebih besar dibandingkan implementasi system informasi lainnya dan dapat mengakibatnya perubahan yang signifikan dalam organisasi (Davenport, 2000). Scope dan kompleksitas project merupakan resiko yang besar bagi bisnis perusahaan
  • Kurangnya skill project team expertise. Implementasi ERP membutuhkan berbagai macam keahlian. Organisasi biasanya kurang mempunyai skill change management dan skil BPR yang dibutuhkan untuk implementasi. ERP sistem biasanya dibuat berdasarkan Bahasa pemrograman dan konsep yang umumnya hal yang baru bagi staff IT (Kay,1999). Kurangnya skill yang dibutuhkan untuk implementasi ERP inilah yang merupakan potensial resiko bisnis.
  • Potensial terjadinya turn over employee. Pada saat organisasi mengimplementasi ERP yang lebih kompleks, organisasi akan mengalami perubahan relationship dengan employee. Employee mungkin akan bekerja dengan orang orang lain, sharing informasi dengan departemen lain, mendapatkan skill baru atau responsibility baru (Appleton, 1999). Perubahan ini dapat membawa terjadinya perlawanan, kebingungan dan ketakutan di antara employee. User yang tidak menunjukan support meningkatkan potensial resiko (Anderson and Narasumhan, 1979). Turn over employee atau perlawanan employee menciptakan resiko bisnis yang baru yang berhubungan dengan implementasi ERP.

5 Kelemahan yang Dihadapi Organisasi Terkait Kontrol pada Implementasi ERP

  1. Kelemahan dalam hal alignment antara ERP system dan Bisnis proses yang ada.
    Kelemahan ini adalah kelemahan yang paling sering dikemukakan pada buku dan atau jurnal-jurnal yang sudah di published sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Davenport pada tahun 1998 dan 2000. Implementasi System ERP pada sebuah perusahaan tidak akan bisa memberikan hasil yang maksimal tanpa adanya penyesuaian pada organisasi dan proses yang ada didalam perusahaan. Studi juga menambahkan bahwa untuk mendapatkan implementasi ERP yang sukses, maka inisiasi kebutuhan untuk melakukan implementasi system ERP ini sebaiknya datang dari bisnis dengan didukung keberadaan hasil yang diharapkan dengan implementasi system ERP ini.
    Kelemahan ini bisa diminimalisasi dengan :

    • Melakukan Business Process Reengineering (BPR)
      Melakukan BPR akan membuat proses operasi yang dimiliki perusahaan untuk dapat align dengan ERP system yang akan diimplementasikan, sehingga akan membuat perusahaan mendapatkan full benefit yang ditawarkan oleh ERP system. Dengan dilakukannya hal ini, maka inisiatif dari implementasi ERP ini sebaiknya datang dari bisnis. Selanjutnya dengan sudah dilakukannya hal tersebut, maka tujuan strategis dari implementasi ERP ini akan menjadi lebih jelas dan proses yang akan berjalan akan konsisten dengan tujuan yang ingin diselesaikan.
    • Melakukan pembentukan kebutuhan spesifikasi dalam bentuk detail
      Dengan spesifikasi detail yang dibuat, maka kemungkinan untuk system ERP yang diimplementasikan dapat memenuhi kebutuhan organisasi, dan bisnis proses perusahaan akan menjadi lebih tinggi. Menurut davenport pada tahun 2000, selagi proses ini dilakukan, baseline matrix pada proses-proses existing dapat dibentuk dengan lebih baik, dan hal ini dapat juga digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap hasil implementasi ERP ini.
    • Memastikan testing terhadap system sebelum implementasi ERP dilakukan dan memonitor performansi dari system yang ada.
      Keberadaan hal ini adalah hal yang sangat penting dalam implementasi ERP ini, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ERP system yang suda diimplementasikan dapat dioperasikan dengan baik, dan dapat memberikan support yang cukup terhadap proses bisnis yang ada di perusahaan, tentunya sesuai dengan desain yang sudah dilakukan sebelumnya.
  2. Kelemahan dalam melakukan kontrol terhadap project
    Kelemahan ini dapat muncul minimal pada 2 situasi, yaitu kehilangan control terhadap project team, dan juga kehilangan control terhadap pekerja setelah system menjadi operasional. Kelemahan kehilangan control terhadap project muncul karena adanya desentralisasi berikut proses ratifikasi yang tidak efektif dijalankan. Pada saat tim project dibentuk, karena skalabilitas system yang besar, maka tim akan dibentuk beranggotakan banyak pekerja dari bagian yang berbeda yang memiliki tanggung jawab yang berbeda. Ketika tim ini di bentuk, keputusan pelaksanaan project dan ratifikasinya adalah menjadi tanggung jawab dari tim ini. Namun dengan dilakukannya hal ini, ada risiko bahwa implementasi ini akan lebih memenuhi kebutuhan tim project dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan perusahaan secara keseluruhan.

    Di sisi lain, risiko yang membuat kelemahan ini muncul adalah risiko kehilangan control terhadap pekerja setelah project ini selesai dilaksanakan. Dengan skalabilitas yang tinggi, maka hampir seluruh pekerja akan terkena dampak dari implementasi ERP ini, mulai dari adanya tanggung jawab baru terhadap system ini, baik untuk pekerja level management maupun pekerja-pekerja di bawah level management. kontrol yang kurang terhadap tanggung jawab baru pada pekerja ini baik pada system ERP maupun operasional bisnis yang berubah dengan adanya BPR akan membuat risiko yang cukup signifikan terhadap bisnis.
    Kelemahan ini dapat di minimalisasi dengan melakukan:

    • Pembentukan steering committee
      Dengan adanya steering committee ini, maka senior management dapat melakukan monitoring yang intens terhadap proses pengambilan keputusan oleh tim implementasi, hal ini dilakukan dengan membuat ratifikasi dan approval rights untuk setiap keputusan yang vital. Dengan adanya hal ini, maka keputusan tim yang tidak mendukung bisnis secara keseluruhan dapat dicegah untuk dibuat.
    • Menunjuk project sponsor pelaksanaan implementasi ERP
      Project sponsor akan bertanggung jawab pada implementasi ERP ini sebagai penaggungg jawab budget, baik ketika kondisi sesuai dengan budget yang sudah disetujui maupun saat project membutuhkan anggaran yang lebih. Project sponsor adalah posisi yang accountable pada pelaksanan project implementasi ERP ini.
    • Keterlibatan fungsi internal audit
      Keterlibatan fungsi internal audit akan membantu tim untuk menyelesaikan apa yang sudah direncakan tepat pada waktunya. Internal audit akan dapat memberikan masukan-masukan yang baik karena pengetahuan tim internal audit yang cukup luas khususnya pada control organisasi, business operational process dan kelemahan yang ada pada control existing, yang sangat mungkin tidak diketahui oleh tim project
  3. Project Complexity
    Implementasi ERP system akan menggunakan budget yang besar, dan terkait dengan akuisisi yang kompleks, termasuk hardware, software, biaya implementasi,  biaya konsultasi, dan juga biaya training, dan keseluruhan hal ini bisa memakan waktu yang cukup lama. Dengan skalabilitas yang cukup luas, implementasi ERP ini hampir pasti akan membuat beberapa perubahan didalam organisasi, baik hanya pada level job description, maupun dalam lingkup yang lebih besar adalah perubahan struktur organisasi.
    Kelemahan yang dihasilkan dari item ini dapat diminimalisasi dengan:

    • Pembentukan steering committee yang berisikan senior management.
      Senior management’s direct involvement in the system implementation project often increases the projects perceived importance within the organization (Raghunathan and Raghunathan, 1998). Dimana keterlibatan senior management ini, akan meng-encourage pekerja, user, dan juga IT departemen untuk memberikan effort yang cukup besar bagi implementasi ERP ini. Disisi lain, komitmen dari senior management akan membantu proses perubahan yang disebabkan oleh implementasi ERP ini.
    • Penunjukkan project sponsor
      Dengan adanya project sponsor yang berasal dari executive level dengan pengetahuan yang mumpuni, senior management akan bisa melakukan monitoring proses dari implementasi system ini. Project sponsor yang ditunjuk akan memiliki responsibility dan merupakan accountable position untuk hasil dari project ini. Penunjukkan project sponsor ini akan memastikan bahwa terdapat accountabilitas yang cukup dalam menghadapi risiko project.
    • Pembuatan rencana detail implementasi system
      Beberapa perusahaan melakukan hal ini untuk memastikan bahwa project team akan memiliki tujuan dan target yang jelas. Detail implementasi ini akan termasuk matriks dan bagaimana cara evaluasinya akan memberikan bantuan yang cukup dalam mengidentifikasi ririko-risiko ptensial yang akan muncul selama pelaksanaan project yang disebabkan karena delay-delay yang mungkin terjadi.
    • Pembuatan spesifikasi kebutuhan secara detail
      Adanya spesifikasi detail terkait kebutuhan akan memaksa organisasi untuk melakukan identifikasi jauh ke depan spesifikasi yang akan diperlukan pada project, dan organisasi akan mengerti level kompleksitas yang akan dihadapi. Tentunya dengan adanya hal ini organisasi bisa melakukan persiapan yang lebih matang
    • Project management yang kuat
      Project management yang kuat adalah salah satu point kritis dalam implementasi project yang besar seperti hal nya implementasi ERP, dimana bisa memakan jangka waktu yang cukup panjang dan menggunakan budget yang sangat besar.
    • Identifikasi knowledge dan skill yang dimiliki oleh project team
      Hal ini menjadi krusial untuk menentukan berapa banyak dan seberapa skillfull konsultan yang akan diperlukan dalam 1 area expertise.
    • Project team yang fulltime basis
      Hal ini akan membuat project team dapat berkonsentrasi untuk menyelesaikan project yang sedang dikerjakannya
    • Keterlibatan Internal Audit
      Dengan terlibatnya internal audit dalam proses ini, maka management risiko yang akan di buat dan bagaimana melakukan manage terhadap risk akan lebih tertata dengan baik, dan juga internal control yang akan dilakukan selama tahapan project akan dapat dilakukan secara lebih efektif.
  4. Kelemahan pada House skill
    Kelemahan pada skill dari project team sudah sering dikaitkan dengan software development risk. Disisi lain, implementasi ERP system akan memerlukan skill-skill yang lebih banyak sebagai tambahan dari pengetahuan akan immlementasi teknis dari tim yang terlibat didalamnya. Seringkali organisasi yang akan mengimplementasikan ERP memiliki skill yang kurang terkait dengan BPR dan management skill. Dan menambahkan kondisi diatas, seringkali ERP system akan membawa language baru kepada perusahaan yang sebelumnya tidak dimiliki oleh perusahaan.
    Untuk meminimalisasi impact dari kelemahan ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

    • Keterlibatan Internal Audit
      Dengan terlibatnya internal audit dalam proses ini, maka management risiko yang akan di buat dan bagaimana melakukan manage terhadap risk akan lebih tertata dengan baik, dan juga internal control yang akan dilakukan selama tahapan project akan dapat dilakukan secara lebih efektif.
    • Menggunakan jasa konsultan dalam project
      Dengan menggunakan jasa konsultan, maka skill yang dimiliki oleh konsultan sebagai hasil dari implementasi di tempat lain akan dapat dimaksimalisasi oleh perusahaan.
    • Interaksi yang baik antara project team dan konsultan
      Walaupun konsultan memiliki skill yang cukup dalam implementasi, namun tidak seharusnya sebuah perusahaan menyerahkan semua implementasi system ERP kepada konsultan, karena pengetahuan konsultan yang terbatas akan bisnis proses yang dimiliki oleh perusahaan. Namun, dengan koordinasi yang baik antara konsultan dan project lead, maka impelemntasi system ini akan menjadi lebih baik dan disisi lain akan memungkinkan proses skill transfer yang baik – untuk kedua belah pihak.
    • Training yang mencukupi
      Dengan skill yang kurang pada perusahaan, maka perusahaan harus dapat memberikan training kepada tim implementasi, baik dari konsultan yang melakukan implementasi, maupun vendor lainnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa skill yang masih lemah dalam perusahaan dapat di cover. Tidak jarang perusahaan akan memberikan training khusus untuk beberapa pekerja yang akan menjadi “super user” ketika system usdah berjalan, dimana pekerja ini harus dibelaki dengan pengetahuan terkait detail bisnis proses yang baru dan pengetahuan teknis yang mencukupi.
  5. Resistensi dari user
    Resistensi user pada dasarnya adalah hal yang hampir terjadi pada saat terjadi implementasi system, namun dengan skalabilitas yang besar terhadap perusahaan, jumlah user yang resisten juga semakin banyak, hal ini ditambah dengan adanya proses BPR yang dilakukan. User-user yang terdampak dengan adanya BPR, khususnya yang ter’lempar’ dari posisi sebelumnya biasanya akan memberikan performansi yang rendah.
    Resistensi ini dapat diminimalisasi dengan :

    • Memastikan bahwa pada risk management project terdapat item user resistensi

    Dengan adanya item user resistensi dalam risk management project, maka akan dapat dibentuk strategi untuk memitigasi risiko resistensi dari user. Bisa dalam bentuk communication plan, ataupun dengan melakukan broadcast informasi secara regular kepada user.

    • Soft Skill

    Appleton di tahun 1999 menjelaskan bahwa softskill yang dimiliki oleh tim management seperti communication skill dan team building skill, adalah hal yang paling penting untuk dimiliki untuk mendapatkan implementasi ERP yang sukses.

    • Melibatkan user dalam project

    Dengan adanya keterlibatan user pada project, maka kemungkinan user akan “buy in” terhadap ERP system ini akan lebih besar. Disisi lain, melibatkan user dalam project akan membuat tim project melihat lebih jelas apa yang dibutuhkan oleh user dan apa concern-concern yang dimiliki user terkait dengan implementasi ERP ini. Tentunya training terhadap user juga adalah termasuk salah satu hal yang harus dilakukan dalam tahapan ini, dan hasil dari training ini akan membuat user dapat menggunakan system ERP yang diimplementasikan dengan baik.

Matriks resiko implementasi ERP dan kontrol terkait pada organisasi di Indonesia
ISQATK1

Beberapa penelitian yang dilakukan terkait dengan implementasi ERP di perusahaan yang ada di Indonesia menyatakan hal berikut :

  1. Sri Setyowati Utami; Heru Susilo; Riyadi; dalam jurnalnya Analisys penerapan Enterprise Resource Planning (ERP) (studi kasus PT Domusindo Perdana) di tahun 2016 menyatakan bahwa implementasi system ERP di perusahaan ini memiliki beberapa kelemahan, seperti sistem SAP dan hardware yang digunakan PT Domusindo Perdana sudah usang, server yang tidak memadai, SAP R/3 yang tidak cocok dengan proses produksi perusahaan, dan SAP R/3 yang tidak user friendly.Penerapan system SAP pada perusahaan ini melalui 4 tahapan, yaitu studi kelayakan, mapping pelaksanaan SAP R/3, Pelaksanaan SAP R/3 dan evaluasi. Secara garis besar penerapan ERP di PT Domusindo Perdana telah berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari terjadinya integrasi data yang terjadi pada PT Domusindo Perdana. Namun walaupun implementasinya dalam kondisi baik, masih tetap ada kelemahan dari system yang diimplementasikan.Saran yang diberikan adalah melakukan pembaharuan system ERP, melakukan monitoring secara  periodic, melakukan pelatihan kepada user dan optimalisasi penggunaan modul SAP.

    Analisa: Jurnal ini menyatakan beberapa hal yang sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan pada tabel sebelumnya, seperti pentingnya pelatihan, dan pentingya memiliki detail implementasi yang baik yang ditandai dengan adanya studi kelayakan. Namun, tidak semua item yang terdapat pada tabel di acknowledge oleh journal ini.

  1. Aries Wicaksono; Hery Harjono Mulyo; Ignatius Edward Riantono dalam jurnal Analisis Dampak Penerapan Sistem ERP terhadap Kinerja Pengguna pada tahun 2015, menyatakan bahwa penerapan sistem ERP berdampak positif terhadap komponen kinerja pengguna, dimana komponen yang diuji adalah Quantity of Work, Quality of Work, Job Knowledge, Creativeness Cooperation, Dependability, Initiative, dan personal qualitiesKunci sukses dari implementasi system ERP pada perusahaan adalah komitmen management dan pelatihan penggunaan system ERP. Komitmen manajemen diperlukan agar sistem ERP yang telah dibangun dan diterapkan dalam perusahaan digunakan secara maksimal secara menyeluruh, sehingga fungsi sistem ERP dapat berjalan dengan semestinya. Kemudian faktor pelatihan menjadi penting karena pengguna mendapatkan informasi bagaimana menggunakan semua fungsi dalam sistem ERP yang ada secara maksimal, sehingga tujuan penerapan sistem ERP yaitu meningkatkan dan memperkuat efektivitas dari sumber daya yang ada dalam perusahaan

    Analisa :
    Jurnal ini menyatakan hanya ada 2 hal yang menentukan keberhasilan implementasi, yaitu, komitmen manajemen dan pelatihan, yang pada dasarnya masih sejalan dengan tabel yang suda dipaparkan sebelumnya, walaupun tidak semua item yang ada pada tabel di acknowledge oleh jurnal ini
  1. Anton Susanto, dengan judul jurnal : Implementasi system ERP PT Pos Indonesia: Sebuah Inisiasi dan strategi, pada tahun 2013 menyatakan bahwa implementasi ERP di PT Pos merupakan keputusan bisnis yang diambil karena adanya dorongan internal maupun external dengan harapan bahwa implementasi ERP dapat meningkatkan nilai tambah perusahaan.Implementasi ERP pada PT Pos dimulai dengan melakukan analisa terhadap kondisi yang dihadapi oleh perusahaan, seperti PEST analysis, analysis five forces, analisa Value chain, dan analisya value creation. Dimana hasil analisa ini kemudian di jadikan bahan pada saat menentukan strategi apa yang akan diambil oleh PT Pos dalam implementasinya, dan salah satu strategi yang digunakan adalah melakukan implementasi bertahap per modul untuk maksimalisasi hasilnya.
    Analisa
    : Jurnal ini secara implisit sesuai dengan beberapa hal yang terdapat pada tabel yang dipaparkan sebelumnya, walaupun memang tidak semua hal tercakup. Sebagai contoh, PT Pos melakukan analisa-analisa yang sesuai dengan tabel akan memberikan acuan yang cukup jelas dan menutup risiko-risiko yang ada. Disisi lain, PT Pos juga melakukan prioritasisasi terhadap modul yang akan digunakan, sebagai upaya meredam resistensi user, dan juga memastikan dalam waktu yang ada, skill yang harus dimiliki oleh pekerja dalam menggunakan ERP sudah mencukupi, hasil lain yang dapat didapatkan dengan implementasi bertahap adalah bahwa proses monitoring dapat dilakukan secara intens terhadap system yang diimplementasikan.
  1. Setyawan Wibisono, dengan judul jurnal : Enterprise Resource Planning (ERP) Solusi Sistem Informasi Terintegrasi, pada tahun 2005 menyatakan bahwa ERP adalah system yang di implementasikan untuk menyatukan seluruh departemen dan fungsi yang ada pada sebuah perusahaan ke dalam sebuah sistem komputer terpadu yang dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan spesifik dari departemen yang berbeda. ERP menganut system 3 tier dalam implementasinya, yaitu presentation layer, application layer dan database layer.Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan ERP system yang akan diimplementasikan, yaitu ukuran volume transaksi, pengalaman vendor yang akan melakukan implementasi, dan dukungan teknis dari perangkat lunak yang akan digunakan. Ada 2 strategi yang dapat digunakan untuk implementasi ERP, yaitu melakukan implementasi secara menyeluruh atau menggunakan strategi franchise, yaitu melakukan implementasi beberapa system ERP yang berbeda untuk tiap bisnis unit.Ada beberapa hal yang menentukan keberhasilan implementasi ERP, yaitu Bisnis proses yang matang, change management yang baik, komitmen dari top management, kerjasama dan good consultant. Dan beberapa hal yang membuat kegagalan pada implementasinya adalah, kurangnya dukungan management, project dianggap hanya merupakan project 1 departemen, tidak ada PIC, hanya menyerahkan seluruh proses pada departemen IT, dan vendor yang tidak memiliki pengalaman yang cukup.

    Analisa: Jurnal ini pun secara implisit memperlihatkan kesesuaian dengan tabel yang dipaparkan, khususnya pada point hal yang menentukan keberhasilan implementasi dan hal yang bisa menggagalkan pada dasarnya sejalan dengan risiko dan kontrol yang dipaparkan pada tabel sebelumnya. Walaupun tidak semua item pada tabel yang dipaparkan sebelumnya dipaparkan kembali oleh jurnal ini.

  1. Elisabeth P. K; FX Rahadian E; dalam jurnalnya Penerapan Enterprise Resource Planning pada PT Garuda Indonesia (persero) menyatakan bahwa penerapa ERP dapat membantu management dalam menjaga keandalan informasi, dan terkait dengan PT Garuda Indonesia (persero), persiapan dan penerapan system ERP di perusahaan sudah berjalan dengan baik.Penerapan ERP system di PT Garuda Indonesia (persero) sudah dimulai dari tahun 1999 dengan focus bagian keuangan dan sumber daya manusia. Lalu project kemudian dilanjutkan pada tahun 2001 dengan focus pada maintenance dan engineering, yang sampai dengan saat ini masih berjalan adalah upaya pengembangan dan penyempurnaan system ERP.
    Analisa:
    Jurnal ini menyatakan bahwa project ERP di PT Garuda Indonesia (persero) adalah project yang dilakukan bertahap, dimana sampai dengan saat ini, pengembangan dan penyempurnaan masih tetap dilakukan. Hal ini sejalan dengan item close monitoring system after the implementation yang berada pada tabel sebagai control untuk memastikan kesuksesan implementasi ERP.

Dari beberapa Jurnal di atas, dapat dilihat bahwa pada dasarnya tidak semua item yang dianggap risiko dan control pada literature sebelumnya adalah risiko dan control yang harus ada dan dijadikan perhatian. Memang beberapa item control dan risiko pada tabel tersebut akhirnya muncul pada jurnal-jurnal yang sudah dipaparkan sebelumnya, namun tidak keseluruhan nya. Maka secara umum dapat dikatakan bahwa tabel yang disajikan bisa digunakan untuk kondisi di Indonesia namun tidak pada tatanan 100% sesuai. Sebagai contoh konkrit adalah bahwa dari 5 jurnal yang kami kutip, tidak ada 1 pun jurnal yang menyatakan bahwa komponen keterlibatan internal audit – secara khusus – adalah hal yang harus diperhatikan. Dan dari 5 jurnal tersebut dapat di ambil informasi bahwa implementasi system ERP nya adalah implementasi yang sukses.

Kami melihat hal ini bisa jadi dikarenakan oleh kondisi culture dan maturity dari perusahaan yang menggunakan ERP yang tidak sama, sebagai contoh, pada literature disebutkan bahwa ada salah satu perusahaan yang bankrupt karena melakukan implementasi ERP, namun hal tersebut tidak akan terjadi di Indonesia. Desakan-desakan yang muncul untuk tetap memenuhi trust dari stakeholder tentunya akan tetap ada, namun lagi-lagi sepertinya culture di negara ini akan memberikan prioritas yang berbeda dengan apa yang ada di negara yang lain.

Namun, hal ini merupakan kewajaran, kami melihat bahwa tidak selalu sebuah konsep yang baik pada 1 negara akan baik pada negara yang lain pula, minimal tidak dalam tatanan 100%, bahkan pada level perusahaan. Bisa jadi ada perbedaaan yang akan muncul dan ada perubahan yang harus dilakukan pada konsep yang sudah baik ini, walaupun tidak besar karena tujuan, visi, misi, strategy dan juga culture yang berbeda dari setiap perusahaan. Namun, perubahan dan perbedaan ini tentunya untuk mencapai tujuan yang baik bagi perusahaan.

Saran dan Rekomendasi

Ada beberapa saran yang bisa diberikan untuk penelitian ini:

  1. Mendapatkan case study yang lebih dari 1. Dengan 1 case study, maka informasi yang muncul akan lebih terbatas, dan seperti bahasan diatas, bisa jadi beberapa factor yang menjadi risiko dan control di satu perusahaan belum tentu hal yang sama di perusahaan yang lain.
  2. Melakukan penelitian dimulai saat proses implementasi berjalan sampai dengan setelah waktu implementasi selesai untuk mendapatkan data yang lengkap
  3. Belum adanya korelasi antara 1 item risiko ataupun control dengan item yang lainnya, yang pada dasarnya bisa memberikan informasi tambahan item risiko mana yang lebih kritikal terhadap implementasi ERP dan control mana yang lebih penting dalam menghadapi risiko yang ada

Referensi

[1] Anderson, J.; Narasumhan, R. (1979): “Assessing Implementation Risk: A Technological Approach”, Management Science, vol.25, n.6: 512-521

[2] Anton Susanto, 2013, Implementasi system ERP PT Pos Indonesia: Sebuah Inisiasi dan strategi

[3] Arens, A.A.; Loebbecke, J.K. (1997): Auditing: An Integrated Approach. Prentice-Hall. Upper Saddle River. NJ.

[4] Aries Wicaksono; Hery Harjono Mulyo; Ignatius Edward Riantono; 2015, Analisis Dampak Penerapan Sistem ERP terhadap Kinerja Pengguna

[5] Barki, H.; Rivard, S.; Talbot, J. (Fall 1993): “Toward an Assessment of Software Development Risk”, Journal of Management Information Systems, vol.10, n.2:203-225.

[6] Davenport, T.H. (2000): Mission Critical: Realizing The Promise Of Enterprise Systems. Harvard Business School Press. Boston, MA

[7] Davenport, T.H. (July/August 1998): “Putting the Enterprise into the Enterprise System”, Harvard Business Review, vol.76, n.4: 121-133.

[8] Elisabeth P. K; FX Rahadian E; Penerapan Enterprise Resource Planning pada PT Garuda Indonesia (persero), Tanpa Tahun

[9] Glover, S.M.; Prawitt, D.F.; Romney, M.B. (February 1999): “Implementing ERP”, Internal Auditor: 40-47.

[10] Hammer, M. (July-August 1990): “Reengineering Work: Don’t Automate, Obliterate”, Harvard Business Review: 104-112

[11] Hammer, M.; Champy, J. (1993): Reengineering the Corporation: A Manifesto for Business Revolution. Harper Business. New York.

[12] Jiang, J.J.; Klein, G. (1999): “Risks To Different Aspects of System Success”, Information and Management, vol.36: 263-272.

[13] Kay, E. (1999): “Desperately Seeking SAP Support”, Datamation, March

[14] Raghunathan, B.; Raghunathan, T.S. (1998): “Impact of Top Management Support on IS Planning”, Journal of Information Systems, vol.12, n.1: 15-23.

[15] Setyawan Wibisono, 2005, Enterprise Resource Planning (ERP) Solusi Sistem Informasi Terintegrasi

[16] Severin V. Grabski; Stewart A. Leech; Bai Lu; Risk and Controls in implementation of ERP System

[17] Sri Setyowati Utami; Heru Susilo; Riyadi; 2016 Analisys penerapan Enterprise Resource Planning (ERP) (studi kasus PT Domusindo Perdana)

[18] Bingi, P.; Sharma, M.K.; Godla, J. (1999): Critical Issues Affecting an ERP Implementation, Information Systems Management, vol.16, n.3: 7-14.

[19] Raghunathan, B.; Raghunathan, T.S. (1998): Impact of Top Management Support on IS Planning, Journal of Information Systems, vol.12, n.1: 15-23.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s